At-Ta’rif bil Arafah: Momen Refleksi, Doa, dan Munajat

Oleh: Rasyida Rifa’ati Husna

Tidarislam.co- Hari Arafah merupakan salah satu hari paling mulia dalam Islam. Pada tanggal 9 Dzulhijjah, jutaan kaum Muslimin yang menunaikan ibadah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf mulai waktu tergelincirnya matahari hingga waktu maghrib tiba.

Keutamaan hari Arafah tidaklah khusus bagi orang yang berhaji saja. Dalam hadits, Nabi saw bersabda:

خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya : “Sebaik-baiknya doa ialah doa yang dipanjatkan pada hari Arafah dan sebagus-bagusnya apa yang saya ucapkan dan diucapkan juga oleh nabi-nabi sebelum aku ialah (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang Maha-Esa tiada sekutu baginya milik-Nya lah kerajaan dan hanya bagi Allah segala puji pujian dan Allah berkuasa atas setiap sesuatu).” (HR Tirmidzi).

Dalam tradisi ulama sufi, Hari Arafah juga dikenal dengan istilah At-Ta‘rīf, yakni hari pengenalan. Kata ta‘rīf berasal dari akar kata ‘arafa yang bermakna mengenal atau mengetahui. Makna ini tidak sekadar pengetahuan biasa, melainkan pengenalan ruhani seorang hamba terhadap dirinya sendiri, dosa-dosanya, kelemahannya, serta pengakuannya terhadap kebesaran Allah.

Ulama salaf dan khalaf menghidupkan Hari Arafah dengan berkumpul untuk berdzikir dan berdoa, sebuah amalan yang dikenal dengan ta‘rif. Ta’rif adalah ibadah tasyabbuh bil Arafah (penyerupaan)  yaitu dengan berkumpul pada hari Arafah sebagaimana halnya jamaah haji yang wukuf di Arafah untuk berdiam diri seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Di antara sahabat Nabi yang melakukan amalan tersebut adalah Ibnu ‘Abbas dan ‘Amr bin Harits.

Dalam kitab Ahwal as-Salaf fi al-Hajj h. 44, diterangkan bahwa orang-orang saleh dahulu saling memperingatkan pada hari Arafah untuk sibuk dengan ibadah dan memperbanyak doa serta tidak banyak bergaul dengan manusia. Seperi ‘Atha’ bin Abi Robbah mengatakan pada ‘Umar bin Al Warod,  “Jika engkau mampu mengasingkan diri di siang hari Arafah, maka lakukanlah.”

Baca juga: Fadhilah dan Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Terkait anjuran dzikir dan doa untuk dibaca di hari Arafah ini, kita diajarkan Hubabah Ummu Ali Qadir al-Habsyi, guru kita di Ribath Ilmi Syarif, Seiwun, beliau meriwayatkan dari atsar Sayyidina Ibnu Abbas bahwa sebaik-baik dzikir di hari Arafah adalah tilawah dan tadabbur Quran. Karenanya sudah seharusnya kita meluangkan waktu kita satu jam, dua jam, atau lebih untuk bergaul dengan Quran, termasuk juga di sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah yang menjadi amal terbaik sepanjang tahun sebagaimana sabda Nabi saw.

Hubabah juga menganjurkan, untuk kita memperbanyak membaca doa tahlil sebagaimana doa arafah yang masyhur dalam hadits Nabi saw:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik perkataan yang aku ucapkan begitu juga para Nabi sebelumku adalah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

Laa ilaaha illallah Wahdahu Laa Syarikalah, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu Yuhyi Wa Yumitu Wahua ‘ala Kulli Syai in Qodir

Artinya: “Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Kerajaan dan pujian hanyalah miliknya. Maha menghidupkan dan mewafatkan. Dan Dia berkuasa atas segalanya.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, doa Nabi saw pada Hari Arafah adalah:

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كَالَّذِيْ نَقُوْلُ, وَخَيْراً مِمَّا نَقُوْلُ, اَللَّهُمَّ لَكَ صَلَاتِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ, وَإِلَيْكَ مَآبِيْ وَلَكَ رَبِّيْ تُرَاثِيْ, اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَوَسْوَسَةِ الصَّدْرِ وَشَتَّاتِ الْأَمْرِ, اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَهِبُّ بِهِ الرِّيْحُ

Artinya: “Ya Allah segala puji hanyalah milik-Mu sebagaimana kami ucapkan dan bahkan lebih baik dari pada apa yang kami ucapkan. Ya Allah, hanyalah untuk-Mu Shalat, hidup dan matiku. Hanyalah kepada-Mu tempat kembaliku. Hanyalah milik-Mu segala peninggalanku. Ya Allah, sungguh aku berlindung padaMu dari siksa kubur, gangguan dalam hati dan terpecahnya segala urusan. Ya Allah, sungguh aku berlindung pada-Mu dari keburukan yang tertiup bersama angin”.

Selain itu pada hari Arafah ini sebagimana yang disunnahkan bagi umat islam yang tidak berhaji dianjurkan untuk berpuasa, dikatakan oleh para alim bahwa puasa dapat menjadi wasilah amal dan doa untuk lebih cepat naik ke langit dan karena fadhilah puasa pada hari tersebut dapat menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

Baca juga: Seputar Haji (8): Pesan Esoteris dari Padang Arafah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *