Al-Qur’an Bicara tentang Self-Love di Bulan Haram

Oleh: Rasyida Rifa’ati Husna

Banyak yang mengira self-love hanyalah tren gaya hidup modern tentang memanjakan diri. Padahal, jauh sebelum itu, Al-Qur’an telah meletakkan fondasi yang mendalam tentangnya. Dalam Islam, self-love bukan sekadar memanjakan keinginan, melainkan sebuah kewajiban sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang telah Allah titipkan.

Tadabbur Al-Qur’an

Al-Qur’an menjelaskan manusia sebagai sosok komprehensif yang terkoneksi erat dengan alam semesta (makrokosmos). Dalam sains, tiap benda di alam semesta memiliki frekuensi elektromagnetik (the energy of universe), dan tubuh manusia adalah bagian dari sistem energi ini.

Melalui buku Quantum Otak karya Suzanne Bell, psikolog Efnie Indrianie menerangkan bahwa setiap sel dalam tubuh kita memiliki mitokondria yang memproduksi sekitar 6,5 oktiliun medan elektromagnetik. Menariknya, atom, molekul, dan sel-sel di seluruh tubuh kita sangat dipengaruhi oleh perubahan frekuensi elektromagnetik alam semesta yang dipicu oleh transformasi peredaran atau revolusi bulan terhadap bumi.

Bulan-bulan haram yaitu Rajab, Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Muharram—ditentukan berdasarkan perhitungan revolusi bulan tersebut. Pada periode inilah terjadi perubahan frekuensi elektromagnetik di semesta yang membuat sistem dalam tubuh kita sedang berada dalam fase di-reset ulang.

Larangan Mendzalimi Diri: Sebagai “Kode Self-Love”

Di sinilah relevansi perintah Allah dalam Surat At-Taubah ayat 36: “Janganlah kamu mendzalimi dirimu padanya (empat bulan itu)”

Penggalan ayat ini merupakan “kode” penting bagi kita. Larangan mendzalimi diri berarti perintah untuk lebih mencintai, menghargai, dan menjaga diri dari segala hal yang bisa menyakiti fisik maupun psikis (bathiniyyah).

Selain itu, dalam Surat Al-Baqarah ayat 217, disebutkan bahwa berperang di bulan haram adalah dosa besar. Dewasa ini, “peperangan” tersebut bertransformasi menjadi perjuangan melawan diri sendiri: mengendalikan mata, hawa nafsu, pikiran, dan amarah agar tidak merusak keseimbangan batin.

Menurut psikolog Efnie Indrianie, saat kita berada di bulan-bulan Haram, tubuh kita sebenarnya sedang berada dalam fase di-reset ulang. Inilah mengapa perilaku kita di bulan ini menjadi sangat krusial.

Jika kita melakukan perbuatan yang berdampak negatif seperti amarah yang tidak terkontrol, permusuhan, atau mengganggu orang lain, dampaknya akan sangat dahsyat bagi sistem tubuh. Emosi negatif tersebut dapat merusak metabolisme, mengganggu fungsi paru-paru, kerja jantung, dan liver, serta menghambat aktivitas sistem saraf. Hal ini selaras dengan hadits riwayat Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa perbuatan maksiat di bulan Haram akan mendapat balasan yang lebih berat secara sistemik pada tubuh dan psikis.

Self-Love yang Bermakna

Mencintai diri di bulan Haram bukan berarti berdiam diri. Selain self-control dengan menghindari perilaku-perilaku yang disebutkan di atas, Al-Qur’an juga menyarankan kita untuk terus melakukan muhasabah atau evaluasi diri, serta berbuat baik kepada sesama.

Sebagaimana studi tentang kebaikan menginformasikan bahwa ketika kita melakukan perilaku mulia akan berdampak positif kepada diri kita. Fungsi kerja sistem organ akan sehat, menghasilkan hormon-hormon yang berpengaruh positif untuk kesehatan fisik dan psikis. Selain itu kinerja otak akan dahsyat, kita tidak akan pernah kehabisan ide, serta dapat membedakan hak dan yang batil.

Pada akhirnya, memang membutuhkan kesungguhan diri untuk dapat mempraktikkan self-love sesuai yang diajarkan Al-Quran. Ikhtiar harus terus dilakukan, termasuk ikhtiar batin dengan selalu berdoa kepada Allah agar diberikan kehendak kuat untuk berbuat kebaikan-kebaikan dan tak terpikat dengan melakukan berbagai kemaksiatan. Doa yang bisa diamalkan seperti di bawah ini:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذا الشَّهْرِ، ونعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ الْقَدَرِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَحَشْر

Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan bulan ini. Kami berlindung kepada-Mu dari buruknya takdir dan buruknya mahsyar.” Wallah a’lam.[]

Baca juga: Sehat itu Amanah: Menjaga Fisik dan Mental dalam Bingkai Iman dan Ilmu

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *