Jejak Islam di Maluku (1)

Tidarislam.co- Kepulauan Maluku sejak dahulu dikenal sebagai kepulauan penghasil rempah-rempah, dan menarik perhatian para pedagang dari mancanegara. Peran Kepulauan Maluku yang letaknya strategis di antara pulau Sulawesi dan Papua sebagai pusat ekonomi rempah pada masanya ternyata membawa pengaruh masuknya agama Islam yang dibawa oleh dari pedagang, khususnya dari Arab, Jawa, dan Melayu. Proses Islamisasi pun berjalan seiring dengan aktivitas ekonomi dan perdagangan yang berkembang pada abad ke-15. Kini Islam menjadi agama mayoritas di Maluku dengan populasi lebih dari 50% memeluk agama ini.

Pengaruh Islam di masyarakat Maluku berjalan dari atas ke bawah, dari pusat kekuasaan kepada masyarakat bawah, dari pengaruh empat Kerajaan yang mengadopsi Islam sebagai agama resmi. Agama Islam tersebar sejak agama Islam diadopsi oleh para raja-raja di Maluku sejak abad ke-13. Menurut Uka Tjandrasasmi, Islam pertama kali datang ke Ternate saat wilayah itu dipimpin oleh raja ke-12 Malomateya, dan pertama kali diadopsi sejak Raja Marhum.  Hal ini membuka ruang Islamisasi di Maluku melalui pengaruh politik. Ketika kolonialisme Barat datang ke Maluku, mayoritas masyarakat Maluku saat itu sudah mengenal dan mengadopsi Islam.

Pengaruh Islam sangat kuat terhadap tata pemerintahan politik dengan munculnya kerajaan beridentitas Islam bercorak kesultanan. Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo (Pulau Halmahera), dan Bacan merupakan empat kerajaan bercorak Islam pertama di Maluku yang paling berpengaruh bagi proses Islamisasi. Empat wilayah utama itulah yang menjadi pusat awal pengembangan Islam pada saat itu. Pengaruh Islam juga muncul di Ambon di bawah kesultanan Tanah Hitu. Dengan tokoh-tokoh Muslim penyebar yang berasal dari Jawa, menciptakan hubungan dan interaksi yang kuat antara kerajaan-kerajaan Maluku tersebut dengan kesultanan Islam di Jawa, seperti kesultanan Tuban, Banten, dan kesultanan lain di Sulawesi.

Salah satu ulama yang pertama-tama menyebarkan Islam di Maluku adalah Sayyid Maulana Husein, seorang ulama yang datang dari Jawa dari kalangan murid Sunan Giri (Gresik) untuk menyebarkan Islam di tanah Maluku khususnya di kerajaan Ternate. Selain itu, juga ada figur-figur lainnya yang membawa Islam dari seberang, seperti Syekh Mansur dari Jazirah Arab yang dikenal pengaruhnya di lingkungan kerajaan Tidore.

Baca juga: Jejak Islam di Bumi Mandar (1): Mata Air Islamisasi

Berkat pengaruh dari empat kesultanan Islam yang kemudian membentuk kerjasama persekutuan yang disebut Moloku Kie Raha (Empat Kerajaan Gunung Maluku) atau persekutuan kerajaan Islam itulah kemudian pengaruh Islam meluas di sekitar pulau-pulau di Maluku, sepeti pulau Haruku, Saparua, Buru, Seram Barat, Seram Tengah, Pulau Gorom, hingga Raja Ampat.

Tokoh penguasa dari kasultanan Islam Maluku yang dikenal pengaruhnya sangat luas bagi Islamisasi adalah Sultan Baabullah (1570–1583), sultan ke-7 kesultanan Ternate, yang membawa Kesultanan Islam Ternate ke puncak kejayaan hingga berhasil mengusir Portugis pada 1575. Perannya dalam Islamisasi meliputi perluasan wilayah yang memberlakukan syariat Islam, menjadikan Ternate sebagai pusat dakwah, serta menyatukan wilayah Maluku dari pengaruh asing (kolonialisme). Sultan Baabullah kemudian dijuluki “Penguasa 72 Pulau” karena berhasil menyebarkan pengaruh Islam sampai Solor, Bima, Mindanao, hingga Papua.

Sultan Nuku (1797–1805) atau Sultan Nuku Muhammad Amiruddin dari Kasultanan Tidore juga dikenal sebagai pemimpin yang berani melawan kolonialisme Belanda dan Spanyol dan mempertahankan pengaruh identitas Islam dari pengaruh kolonialisme. Perannya penting dalam Islamisasi berbasis adat dan syariat Islam, mempertahankan kedaulatan kesultanan, dan penyatuan spirit Muslim dalam melawan kolonialisme.

Islam yang berkembang melalui pengaruh politik itu kemudian membumi dan mempengaruhi “tradisi Islam” di Maluku dengan karakteristiknya yang akomodatif terhadap budaya Timur. Masyarakat Maluku umumnya menganut paham Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang akomodatif terhadap adat dan budaya. Misalnya, tarian Salai Jin yang sangat dalam perkembangannya dipengaruhi oleh ajaran Islam. Selain pengaruh budaya, Islamisasi di Maluku juga membawa pengaruh tasawwuf sebagai pendekatan utama para muballigh Islam dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Ada juga tradisi Maulid Barzanji yang menjadi hari raya besar masyarakat Muslim Maluku untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Masjid Tua Wapauwe di Maluku Tengah, misalnya, menjadi saksi sejarah tentang kuatnya pengaruh Islam tidak hanya di kalangan elit kasultanan, tapi juga di masyarakat bawah. Masjid ini menjadi pusat kegiatan Islam pada masanya, dan masih bisa dipertahankan bangunannya hingga saat ini. Masjid ini menyimpan berbagai saksi sejarah, berupa artefak-artefak budaya Islam, termasuk mushaf-mushaf al-Quran, yang menjadi bukti bahwa dakwah dan pendidikan Islam juga menyertai perjalanan Islam di masyarakat Maluku.

Ini menunjukkan bahwa arus Islamisasi berjalan seperti mata air yang mengalir, di bawah peran para muballigh dari Jawa dan Arab, kemudian menjadikan benih-benih Islam tertanam subur di bumi Maluku berkat penguasa politik yang dominan dan keterbukaan masyarakat Maluku terhadap pengaruh agama Islam itu sendiri.

Muhammad Nur Prabowo Setyabudi, merupakan peneliti agama di BRIN. 

Baca juga: Jejak Islam di Bumi Mandar (2) : Syekh Bil Ma’ruf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *