Oleh: Rasyida Rifa’ati Husna
Tidarislam.co- Bulan Ramadan yang sebentar lagi akan datang bagaikan “tamu” yang membawa berbagai karunia dan berkah yang dititipkan Allah kepadanya. Selain disyariatkannya puasa, keberkahan di bulan Ramadan juga terkait dengan malam diturunkannya Alquran dan keutamaan-keutaman lainnya. Allah dalam firmanNya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah memuji Ramadan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai yang padanya diturunkan Alquran yang agung. Sebagaimana Allah mengkhususkan bulan Ramadan sebagai bulan diturunkan Alquran, ayat ini juga menjelaskan keutamaan bulan Ramadan itu sendiri, di antaranya adalah kewajiban puasa selama sebulan penuh bagi orang yang mukim dan sehat. (Tafsir Al-Qur’anil Adzim, 1/501).
Perintah puasa tersebut ditujukan agar orang-orang mukmin dapat mencapai derajat muttaqin (QS. Albaqarah: 183). Menurut Syekh Nawawi al-Bantani taqwa diartikan dengan memelihara aturan-aturan syariat atau agama. Ditambah juga dengan mengikuti jejak langkah Nabi dalam ucapan dan perbuatan. Dalam konteks inilah bahwa setiap muslim belum dikatakan sebagai orang yang bertaqwa jika enggan menjalankan kewajiban dan menunaikan sunnah seperti yang diteladankan Rasulullah.
Mempersiapkan Diri Secara Mental dan Spiritual
Keagungan Ramadan meniscayakan umat muslim untuk mempersiapkan diri agar dapat menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Rasulullah sendiri meneladankan persiapan menyambut bulan Ramadan yang dilakukannya bahkan semenjak bulan Rajab dan Sya’ban sebagaimana doa yang sering dibaca oleh umat.
Satu doa ringkas penuh makna yang dicontohkan oleh Rasulullah. Mengapa untuk dua bulan dimohonkan berkah, sementara untuk Ramadan frasa doa tersebut “pertemukanlah” karena dikatakan Rasul bahwa untuk sampai kepada Ramadan adalah kebahagiaan yang luar biasa, hanya di bulan itu seluruh muslimin bahkan pendosa sekalipun bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira.
Tidak mengherankan jika kemudian Nabi Saw dan para salaf mengajarkan untuk menyambut Ramadan dengan perasaan suka cita dan bertahmid. Sebab kegembiraan menyambut Ramadan ini juga niscaya bakal diganjar dengan sebuah keutamaan pula, diriwayatkan dalam hadits. Bahwa siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.” (HR. An-Nasa’i)
Selain perasaaan dan pikiran gembira dalam menyambut bulan Ramadan, yang utama dilakukan adalah persiapan ruhiyah. Menurut Imam al-Ghazali yang dimaksud dengan persiapan ruhiyah adalah membersihkan jiwa dengan bertobat nasuha, melatih diri sedikit demi sedikit beramal kebajikan kemudian menjadi kebiasaan.
Mengapa hal itu harus dilakukan, karena dalam kehidupan keseharian manusia suka lalai daripada menjaga mata, lisan, pikiran, tangan, kaki, dan sebagainya. Juga termasuk penyakit hati dimana kebanyakan itu adalah urusan dengan hak adami, karenanya membersihkan batin biasanya juga diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama sebelum memasuki bulan Ramadan.
Menurut sebuah hadis shahih, Rasulullah pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baik itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini. Sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akhirat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. (Jawahir al-Bukhari, hlm. 275)
Persiapan Ilmu
Setelah membersihkan jiwa, adalah sebuah keharusan untuk membekali diri dengan stressing ilmu agama dan pemahaman tentang makna puasa dan segala ibadah yang bisa diamalkan dibulan ini. Juga mempersiapkan doa, zikir, bacaan Alquran yang dapat diamalkan selama Ramadan dengan membangun kebiasaan ibadah ini mulai dari sekarang, dengan memperbaiki bacaannya dan mencari tahu kapan dan bagaimana melakukan amalan ini.
Selanjutnya, persiapan yang perlu dilakukan adalah menyiapkan jasadiyah atau fisik. Karena puasa Ramadan ini bukan menyangkut mental saja akan tetapi termasuk puasa badan atau fisik selama satu bulan penuh. Dengan demikian keduanya harus dipersiapakan secara semetris, keseimbangan. Nabi bersabda: Mukmin yang yang kuat lebih disukai Allah ketimbang seorang mukmin yang lemah”. (HR. Muslim)
Persiapan Materi
Yang terakhir, tidak kalah penting adalah persiapan maaliyah atau uang. Hal ini perlu dipersiapkan dengan baik dan benar karena selama satu bulan penuh melaksanakan puasa memerlukan faktor asupan gizi yang seimbang dan yang berkualitas. Kisah dari Ulama Betawi, mungkin bisa dijadikan sebuah pelajaran. Biasanya mereka mensiasati masalah tersebut dengan cara menabung selama 11 bulan untuk persiapan mereka di bulan Ramadan. Maka, mereka tidak begitu dikejar “mengais” rezeki, sebab tak disibukkan urusan dunia dan dengan tenang dapat melaksanakan ibadah sebulan penuh.
Selain itu, mengapa persiapan materi sangat penting. Sebab dalam bulan Ramadan tidak hanya amalan shaleh personal yang perlu ditingkatkan, namun juga amal sosial. Dikatakan bahwa “Rasul adalah orang yang paling dermawan dan dia biasanya menjadi lebih murah hati saat Ramadan.” (HR.Bukhari)
Melakukan amal saleh sosial sangat dianjurkan selama Ramadan. Dengan melakukan itu, berati meniru teladan Nabi serta para salaf. Bulan Ramadan adalah suatu kehormatan dan perbuatan baik yang dilakukan di bulan ini lebih diberkati daripada waktu lainnya.
Demikian, pentingnya sebuah persiapan terutama dalam menyambut Ramadan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan optimal tidak bisa dianggap enteng dan remeh temeh. Sebab sebagaimana Rasul pernah menyampaikan, “Ramadan ke Ramadan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut.” (HR. Muslim) Artinya Allah akan menjaga hambaNya sampai berjumpa Ramadan berikutnya, jika seseorang ibadahnya baik dan rapi terorganisir di satu Ramadan, maka di 11 bulan sisanya, dia akan mudah menjadi hamba yang bertaqwa, ringan untuk beramal shaleh, juga lebih mudah untuk menjauhi perbuatan-perbuatan dosa. []
Baca juga: Marhaban Ya Ramadhan 1447 H/2026 M
