Sweet Ending Ramadan: Refleksi, Amal, dan Harapan

Oleh: Rasyida Rifa’ati Husna

Tidarislam.co- Saat ini kita telah berada di hari-hari akhir bulan Ramadan. Sebentar lagi tamu istimewa yang membawa banyak rahmat dan nafahat ini akan pergi meninggalkan kita. Maka, hendaknya kita menjadikan perpisahan dengan Ramadan ini menjadi sweet ending atau akhir yang terindah, dengan merenungkan kesungguhan ibadah serta bertekad agar amalan kebaikan tetap berlanjut setelah bulan suci ini berlalu.

Sebagaimana Rasulullah saw. memberi teladan kepada kita seperti apa yang beliau lakukan pada hari-hari pengujung Ramadan. Ummul Mukminin meriwayatkan kepada kita:

كَانَ النَّبٍيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Nabi saw. jika memasuki sepuluh hari terakhir dari Ramadan, mengencangkan sarungnya (artinya lebih bersungguh-sungguh), dan menghidupkan malam-malamnya, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di waktu-waktu menuju akhir Ramadan ini, sudah semestinya bagi kita agar bisa lebih bersemangat dan lebih baik lagi dalam beramal. Rasulullah juga telah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh bagian penutupnya. (HR. Bukhari)

Kesungguhan Beramal

Oleh sebab itu, perjuangan yang lebih besar seharusnya kita lakukan ketika berada di penghujung amalan. Termasuk ketika kita sedang berada di akhir Ramadan. Menukil Ibnu Rajab al-Hambali,

يا عباد الله  إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل  فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى

Wahai para hamba Allah, sungguh bulan Ramadan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit. Karena itu, siapa saja yang telah beramal baik di dalamnya hendaklah dia menyempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia mengakhirinya dengan yang  terbaik.”

Di akhir Ramadan ini masih ada kesempatan untuk mengisinya dengan amal ibadah. Seperti menghidupkan malam-malam Ramadan, menuntaskan bacaan Alquran, i’tikaf di masjid, bersedekah, khidmah untuk keluarga dan orang lain, menjauhi perbuatan dan perkataan yang sia-sia, membayar zakat, dan muhasabab.

Muhasabah Diri

Akhir Ramadan ini juga seharusnya menjadi momen refleksi diri. Sejauh mana kita memanfaatkan bulan ini untuk memperbaiki diri dan bertekad untuk beramal setelah berlalunya Ramadan.

Muhasabah merupakan salah satu ibadah yang agung yang baik diamalkan, khususnya di penghujung bulan Ramadan. Akan tetapi, banyak orang meninggalkannya. Padahal seperti penjelasan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, ketika menafsirkan hadis tafakur yang masyhur. Tafakur yang bernilai ibadah satu tahun, maksudnya intropeksi diri akan suatu masalah hidup dan menyelidiki sebabnya, hingga kita bisa mendapat ibrah dan hikmahnya.

Baca juga: Puasa Ramadhan dan Kebahagiaan Bagi Seorang Muslim

Sementara tafakur yang bernilai ibadah 70 tahun, maknanya mengevaluasi atas ibadah, sehingga diri kita bisa mengenal hakikat ibadah. Kemudian bertafakur tentang Allah untuk mengenalNya, demi meningkatkan kualitas kehambaan dan kedekatan kepadaNya adalah tafakur yang bernilai ibadah seribu tahun

Bulan mulia yang penuh berkah dan ampunan ini memang akan datang di tahun berikutnya. Namun, apakah kita masih akan bertemu bulan tersebut, atau justru kematian sudah mendahuluinya. Oleh karenanya, kita evaluasi perihal amal ibadah selama bulan Ramadan

Antara Khauf dan Raja’

Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin memberikan panduan untuk melakukan refleksi spiritual di penghujung Ramadan. Serangkaian ibadah selama sebulan penuh harus kita sertak dengan rasa khauf (khawatir) dan raja’ (berharap). Dengan khauf, kita menyadari bahwa ibadah kita belum tentu sempurna, sehingga mendorong kita untuk terus memperbaiki diri, jangan sampai di bulan yang luar biasa istimewa ini kita termasuk dari golongan yang tidak mendapat pengampunan dari Allah.

Sebagaimana doa malaikat Jibril yang diaminkan Rasulullah saw.

وَمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ; فَأَبْعَدَهُ اللّٰهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ

Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadan, dan (dengan datangnya Ramadan itu) ia tidak menadapatkan ampunan maka ia masuk neraka dan Allah akan menjauhkannya. Katakanlah ‘Aamiin’. Maka aku (Rasulullah) mengucapkan Aamiin.” (HR Thabrani)

Di sisi lain, kita juga berharap amalan di bulan Ramadan memiliki peluang besar untuk diterima oleh Allah. Dengan raja’ kita akan jauh dari rasa putus asa dan terdorong untuk tetap istiqamah dalam kebaikan, meskipun Ramadan telah berakhir. Penghujung Ramadan bukan sekadar perpisahan dengan bulan suci, melainkan awal bagi perjalanan spiritual yang lebih baik di bulan-bulan berikutnya. Wallah a’lam.[]

Baca juga: Perbedaan Tempat Nginceng

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *