Puasa Ramadan dan Kebahagiaan Bagi Seorang Muslim

Oleh: Rasyida binti Izzuddin

Tidarislam.co- Puasa Ramadan menjadi salah satu jalan yang diajarkan agama Islam untuk mencapai kebahagiaan. Dengan berpuasa seorang muslim diajarkan untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsunya serta memperbaiki kebiasaan perilakunya. Sebab telah mafhum bahwa hawa nafsu dalam diri manusia adalah sumber utama dari godaan setan dan perbuatan buruk atau maksiat yang membuat dirinya tidak akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.

Puasa Sebagai Pelajaran dalam Mengendalikan Hawa Nafsu

Hawa nafsu apabila dibiarkan atau tidak ditundukkan, setiap perilakunya akan tidak baik. Sebaliknya, jika seseorang mampu menguasai nafsunya, setiap perbuatan dan perkataannya adalah kebaikan dan kesalehan yang mengantarkan diri kepada kebahagian. Pengendalian sebagaimana yang dimaksud tersebut itulah yang ingin dibangun dari ibadah puasa Ramadan, sesuai dengan inti puasa, yaitu al-imsak yang berarti menahan diri atau hawa nafsu. Hal ini sebagaimana pendapat mufassir dalam menjelaskan ayat-ayat puasa (QS. al-Baqarah ayat 183-187), bahwa tujuan utama puasa adalah untuk mengubah kualitas jiwa seorang hamba agar menjadi lebih terkendali dalam mengelola hawa nafsu.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ismail Haqqi mengenai esensi puasa, bahwa puasa hakikatnya menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan segenap anggota badan dari rasa curiga dan segala hal yang menghalangi dirinya dari sampai kepada Allah. (Tafsir Ruh Al-Bayan, juz 1, h. 289).

Pendapat lain dikemukakan oleh al-Jailani, bahwa puasa yang telah diwajibkan dari umat para nabi terdahulu sesungguhnya puasa itu diwajibkan agar bertakwa, dengan harapan dapat menjaga diri dari sikap berlebihan dalam urusan makan karena itu dapat mematikan kalbu, memadamkan api rindu kepada Allah, dan meredupkan cinta yang hakiki kepadaNya. (Tafsir al-Jailani, juz 1, h. 158).

Ketika berpuasa, selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahir seperti makan, umat Islam juga dilarang melakukan tindakan yang tidak bermoral, sebab itu dapat membatalkan pahala puasanya. Di antaranya sebagaimana dalam hadits, Nabi Saw bersabda, “Lima hal yang menjadikan puasa batal (pahalanya), yaitu: berbohong; menggunjing; mengadu domba, melihat dengan syahwat dan sumpah palsu.” (Bidayatul Hidayah h. 100)

Tetapi juga menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin, juz 3, h. 85, ketika seseorang berpuasa, dengan menahan dirinya dari makan dan minum itu, sejatinya hawa nafsunya akan terkendali. Sebab di antara faedah atau manfaat saat perut dalam kondisi lapar adalah bisa menaklukkan hawa nafsu yang berpotensi untuk menjerumuskan dalam perbuatan maksiat.

“Kebahagiaan terletak pada keberhasilan dalam memerangi hawa nafsu dan menahan diri dari hal yang berlebihan.”

Makanan sebagaimana kata al-Ghazali adalah ‘bahan bakar’ bagi hawa nafsu. Dengan mengurangi mengonsumsi makanan, maka hawa nafsu akan meredup dan seseorang mampu mengendalikan dirinya. Jika seseorang mampu mengendalikan diri, maka ia mampu arahkan tubuhnya untuk melakukan kebaikan dan menghindari perilaku tercela, dengan begitu hidupnya akan selalu dalam ketenangan dan kesenangan. Dengan demikian, kebahagiaan terletak pada keberhasilan dalam memerangi hawa nafsu dan menahan diri dari hal yang berlebihan.

Kebahagian Bagi Orang yang Berpuasa

Puasa Ramadhan yang merupakan salah satu moment untuk memperkuat kemampuan mengendalikan diri seorang muslim. Dalam ilmu psikologi, pengendalian diri atau self control diartikan sebagai kemampuan untuk  mengelola setiap hasrat dan mengarahkan pada tingkah laku yang baik. Kemampuan pengendalian diri akan mendorong seseorang untuk membuat keputusan yang lebih baik sehingga tidak mudah terjatuh dalam kesalahan.

Berbagai studi menyatakan bahwa kemampuan self control ternyata menjadi salah satu kunci untuk menjalani kehidupan yang bahagia. Pasalnya, orang yang mampu mengendalikan diri akan berpikir jauh sebelum mengambil keputusan. Ia tidak akan ceroboh dan gegabah dalam bertindak. Dengan begitu, hidup juga menjadi lebih tenang sebab akan terhindar dari berbagai masalah.

Sehingga dengan berpuasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dalam satu bulan penuh pada Ramadan, umat muslim sesungguhnya diajarkan agar dapat mengelola keinginan dan hasratnya dengan baik, mengerti kapan harus menahan atau menyalurkan keinginan.

Oleh karenanya puasa bukan bertujuan untuk membinasakan syahwat manusia, tetapi mendidiknya agar memiliki kemampuan mengendalikan diri yang baik. Dengan kemampuan itu, seseorang akan menjadi lebih mawas diri dari melakukan perbuatan yang salah dan mencelakakan dirinya.

Selain itu, Rasulullah sendiri dalam haditsnya pernah bersabda bahwa: “Orang yang berpuasa akan meraih dua kebahagiaan, yaitu ketika berbuka puasa/berhari raya, dan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).

Al-Mulla dalam Marqatul Mafatih Juz 4, h. 1363, menerangkan dua kegembiraan itu meliputi di dunia dan di akhirat. Dua kebahagiaan tersebut yaitu:

Pertama, kegembiraan saat berbuka karena telah berhasil melaksanakan perintah Allah atau sebab mendapatkan pertolongan dapat menyempurnakan puasa dari menahan dirinya dan meraih pahala yang diharapkan.

Kedua, kegembiraan saat bertemu Tuhan sebab mendapatkan balasan amal puasa, mendapatkan pujian, atau keberuntungan dapat berjumpa dengan Allah.

Dengan demikian dari hadits tersebut dapat dipahami, bahwa puasa Ramadan khususnya menjadi salah satu indikator yang mampu mengantarkan seseorang pada kebahagiaan. Wallahu a’lam.[]

Baca juga: Tarhib Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *