Mushaf Al-Qur’an Khat-e-Manzur, Permudah Hafalan dan Bagi yang Uzur*

Oleh: Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan**

“Hudhur a.t.b.a. telah memberikan petunjuk khusus kepada Nazarat Nashr-o-Ishaat Qadian untuk menyiapkan edisi komputerisasi Al-Qur’an versi hafalan -dengan menggunakan jenis huruf ‘Khat Manzur’- yang terdiri atas 15 baris pada setiap halaman, dengan penyelesaian di akhir tiap halaman sesuai dengan standar internasional.”

Pendahuluan

Sejak 2006, Penulis telah mengenal Khat-e-Manzur, yaitu khat yang diciptakan khusus oleh seorang Qari dan Pengajar Al-Qur’an yang juga seorang Ahmadi, Pir Muhammad Manzur. Perkenalan khat itu melalui buku “Yassarn al-qur’an” yang saat itu diterjemahkan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.[1]

Melihat khat Manzur menjadi biasa ketika Penulis mengumpulkan aneka terbitan Al-Qur’an dengan terjemah bahasa Inggris oleh Maulana Sher Ali, M.A. Misalnya, saat berada di Qadian, Penulis mengumpulkan The Holy Qur’an: Arabic Text and English Translation yang diterbitkan oleh Islam International Publication Limited, Qadian, Gurdaspur (Punjab) India, 2011.[2]

Artinya, sejak 2006 hingga kini (2026), sudah sekitar 20 tahun Penulis terbiasa membaca khat-e-Manzur tersebut. Memang, awalnya ada yang cukup asing dengan khat ini, sebab selama ini terbiasa dengan khat rasam Utsmani yang banyak beredar di Indonesia. Bahkan, sebelumnya terbiasa dengan naskah Bombay yang (masih) banyak beredar di kampung-kampung.[3]

Oleh sebab itu, adalah sesuatu yang unik, manakala Yayasan Wisma Damai (YWD) Jakarta kemudian menerbitkan Mushaf Al-Qur’an dengan khat-e-Manzur ini di Indonesia. Namun bila melihat keistimewaannya, akan banyak orang yang menggunakannya dengan beragam manfaat yang didapat.[4]

Mushaf Al-Qur’an Khat-e-Manzur

Mushaf Al-Qur’an Khat-e-Manzur atau lengkapnya The Holy Qur’an (Digitally Typeset in Khat-e-Manzoor) pertama kali diterbitkan di Inggris oleh Islam International Publication Ltd, 2023. Mushaf ini memiliki ISBN 978-1-84880-230-8.

Sebenarnya, Mushaf ini sudah diterbitkan sejak 1989 di Inggris, 1995 di Belanda, lalu di berbagai negara sejak 1997 dengan Appendix yang mencakup Prayer Offered at the Comoletion of the Recitation of the Holy Qur’an, Some Arabic Words Explained, Index dan Explanatory List of Some Qur’anic Words and Expressions as Explained by Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, the Fourth Successor of the Promised Messiah a.s. serta List of References of Proposed Translations.

Sedangkan dalam format kecil (small size) mulai diterbitkan pada 2003, dilanjut dengan edisi kedua pada 2005. Kemudian pada 2008 mulai diterbitkan Edisi Pertama lagi, disusul Edisi Kedua pada 2009. Sedangkan edisi terkini diterbitkan pada 2011 oleh Islam Internasional Publication Limited, dan untuk di India, diterbitkan oleh Nazarat Nashr-o-Ishaat, Sadr Anjuman Ahmadiyya Qadian 143516, Distt. Gurdaspur (Punjab), India.[5]

Mushaf ini telah terdaftar di British Library Cataloguing in Publication Data: [Koran. English and Arabic. 1989], The Holy Qur’an with English Translation, 1. Ali, Maulawi Sher, 297′. 122 dengan ISBN 1-85372-811-X. sedangkan untuk Edisi 2011 diterbitkan bersarkan restu dari Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V dan Pimpinan Sedunia Jemaat Muslim Ahmadiyah.

Untuk di Indonesia sendiri, naskah Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an (Dalam Cetakan Khat Manzur Terdigitalisasi) mengambil dari naskah yang diterbitkan oleh Nazarat Nashr-o-Ishaat Qadian, September 2022. Setelah mendapat tashih dari Tim Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Komite Tasnif Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada 29 Rabi’ al-Akhir 1447 H (21 Oktober 2025 M), maka naskah Mushaf ini kemudian diterbitkan.[6]

Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Bpk. Zaki Firdaus Syahid, S.T., M.T. memberikan Kata Pengantar dalam edisi perdana penerbitan Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini. Menurutnya, “Pencetakan Al-Qur’an ini bukan sekedar simbol peringatan sejarah, melainkan wujud pengabdian untuk terus menegakkan kecintaan kepada Kitab Suci yang menjadi pedoman hidup kita, sebagaimana yang diajarkan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s.” [7]

Keistimewaan Khat-e-Manzur 

Secara fisik, sebagaimana disebutkan dalam Surat Tanda Tashih, ukuran Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an tersebut adalah 15,7 cm dan 23,4 cm. Sedangkan untuk ketebalannya mencapai 2,5 cm. Pada tiap lembar, terdapat frame alias marjinalia berbentuk kotak dengan bulatan bersambung di dalamnya. Warna frame adalah kuning emas.[8]

Pada halaman pertama -yang dimulai dari kanan- merupakan cover dalam dari Mushaf ini. Marjinalia berupa kotak garis dengan sudut floral. Tulisan Kitab Suci Al-Qur’an terdapat di bagian bawah tulisan “Qur’an Majiyd” dalam huruf Arab. Di atasnya lagi terdapat kutipan ayat 70 Surah Al-Waqi’ah dengan terjemah bahasa Indonesia.[9]

Sebagaimana pada mushaf sejenis, pada halaman yang memuat Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqarah pastilah dihias dengan kaligrafi yang lumayan indah. Begitu juga dengan Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini, pada halaman 2 dan 3 dikelilingi oleh motif kaligrafi floral, dengan garis dan kotak yang didominasi warna kecoklatan. Warna lainnya adalah biru langit dan merah muda serta warna lembut lainnya.[10]

Untuk jumlah baris pada halaman 2 dan 3 mencakup enam baris.[11] Tiap nama Surah diberi iluminasi floral dalam kotak, dengan dominasi warna biru tua dan coklat. Penandaan jumlah ruku dan ayat terletak di sebelah kanan dan kiri nama Surah dalam huruf Arab. Tiap akhir ayat diberi penomoran yang terdapat dalam lingkaran berwarna biru langit. Warna utama huruf Arabnya sendiri adalah hitam.

Jumlah halaman Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini adalah sebanyak 611 halaman bolak-balik. Halaman utama terakhir adalah berisi Surah Al-Falaq dan Surah Al-Naas. Antar ayat dibatasi dengan garis bawah. Jumlah tiap lembar ada 15 baris. Inilah keistimewaan dan tujuan diterbitkannya Mushaf ini.[12]

Pertama, adalah edisi komputerisasi Al-Qur’an versi hafalan. Dengan baris sejumlah 15 tiap lembar/halaman, ini memang memungkinkan supaya mudah dihafal. Namun, berbeda dengan Mushaf Utsmani, Mushaf ini khusus dengan metode menghafal khas Ahmadi. Kemungkinan dengan metode tersendiri seperti di Madrasah Hifz Al-Qur’an di Rabwah (Pakistan) atau Qadian (India).

Kedua, Tanda Baca (Syakal) selalu konsisten dengan huruf Arabnya. Ini memudahkan bagi anak-anak dan pemula atau mualaf. Posisi tanda baca yang tepat berada di atas/bawah hurufnya akan mempermudah pembacaannya. Pembaca tidak akan tergincir dengan kesalahan membacanya.

Ketiga, meskipun singkat, disertakan juga Doa Khatm Al-Qur’an, Tanda-tanda Wakaf, Daftar Surah Al-Qur’an untuk memudahkan pencarian letak ayat atau Surah dan Daftar Juz Al-Qur’an sehingga akan memudahkan dalam penghafalan atau pembacaan.

Baca juga: Mengenal Aneka Terjemahan al-Quran Bahasa Jawa

Penutup

Sebagai penerbitan perdana, tentu saja Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini layak diterima dengan senang hati dan kebanggaan tersendiri. Setelah selama satu abad, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia belum memiliki mushaf, maka Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini akan menjadi bukti otentik akan kecintaan dan keakuratan fakta bahwa Kitab Suci orang Ahmadiyah juga Al-Qur’an.

Setiap orang yang ingin menelitinya, akan dengan mudah melakukannya. Mereka bisa datang ke Pusat Jemaat Muslim Ahmadiyah terdekat di kotanya atau kepada keluarga-keluarga Muslim Ahmadi yang diharapkan juga telah memiliki Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini.[13]

Dipastikan, Mushaf Al-Qur’an yang diterbitkan oleh Yayasan Wisma Damai Jakarta atau Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia ini dengan Mushaf Al-Qur’an terbitan pihak lainnya memiliki 100% persamaan isi. Hanya khat, tata letak, iluminasi saja yang membuatnya berbeda.

Selain itu, dengan hadirnya Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini diharapkan kecintaan terhadap Al-Qur’an semakin meningkat di kalangan Ahmadi. Mereka akan dengan antusiasnya membaca dan memahami kandungan maknanya. Dan terakhir, tentu saja diharapkan para pembaca dapat mengamalkan apa yang menjadi perintahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya. []

Baca juga: Mengenal Beberapa Manuskrip al-Quran Tertua

Catatan: 

[1] Terjemahan itu kemudian diterbitkan oleh Sekretaris Ta’lim Al-Qur’an dan Waqif Arzhi PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang saat itu dipegang oleh Drs. H. Djamil Sami’an, 2005-2007.

[2] Saat di Qadian, Penulis aktif mengumpulkan buku-buku termasuk Kitab Al-Qur’an dengan terjemah bahasa Inggris oleh Maulana Sher Ali. Di Qadian, bea ganti cetaknya hanya 100 rupees atau setara Rp 20.000,-

[3] Sewaktu kecil, Penulis pernah mengaji dan nyantri kalong di Pesantren/Rumah Santri dengan pegangan Al-Qur’an Bombay dengan khat khas India.

[4] Keistimewaan itu dapat terlihat dari Pengantar yang diberikan oleh Pir Muhammad Manzur sendiri dalam Mushaf Al-Qur’an tersebut.

[5] Naskah Mushaf Khat-e-Manzur tersebut memang biasa dipakai di Qadian, India. Oleh sebab itu, naskah yang dipakai dalam Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an pun berasal dari sana.

[6] Dalam proses pencetakannya, Penulis mencoba membantu dengan menghubungkan praktisi percetakan yang sudah berpengalaman di bidangnya. Sayangnya, untuk di Indonesia belum ada percetakan yang mampu mencetak dengan kualitas seperti contoh aslinya dari Turki.

[7] Lihat, Kata Pengantar oleh Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia untuk lengkapnya.

[8] Warna tinta emas pada Mushaf contoh terbitan Turki, ternyata belum ada di Indonesia sehingga semua warna merupakan modifikasi. Sebab, bila dicetak sesuai dengan contoh aslinya, akan menyebabkan harganya minimal Rp 600.000,-an untuk di Indonesia.

[9] Disini ada yang agak mengganggu kaitannya dengan Mushaf Al-Qur’an, yaitu, biasanya bagian cover luar tidak ada huruf lain. Tetapi dalam Mushaf Kitab Suci Al-Qur’an ini mencantumkan terjemahan huruf latin.

[10] Kaligrafi dan jumlah ayat di dalamnya pada Surah Al-Fatihah dan Surah Al-Baqarah biasanya sudah ditentukan dengan jelas. Mushaf ini agak berbeda dengan Mushaf rasam Utsmani yang biasa dipakai di Indonesia. Meski demikian, inilah salah satu keunikan dan keistimewaannya terkait dengan metodologi hafalan.

[11] Ada perbedaan jumlah baris antara Mushaf ini dengan Mushaf Utsmani pada Surah Al-Baqarah yang dihias dengan Kaligrafi.

[12] Untuk keistimewaan lainnya, jarak antar kata tampak renggang / berjauhan sehingga memudahkan bagi lansia (uzur) membacanya dengan mudah.

[13] Adalah juga keinginan dari Hadhrat Khalifatul Masih III r.ha. bahwa tiap keluarga Ahmadi memiliki Tafsir Al-Qur’an Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

—o0o—

KETERANGAN:

* Selesai ditulis pada Selasa, 10 Maret 2026 pkl. 21:31 WIB di Griya Carani “DAAR EL-JUMAAN” Pondok Udik, Kemang, Bogor, Jawa Barat.

** Penulis merupakan Mubalig Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia yang diberi amanat sebagai Dosen Jamiah Ahmadiyah Indonesia dan Anggota Komite Penyusun Sejarah Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Penulis juga adalah Direktur dan Pengulik pada Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre for the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Ambon, Maluku. Sejak 2017 diberi amanat sebagai Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I) yang menaungi Prodi/Jurusan Studi Agama-Agama / Perbandingan Agama di 24 kampus PTAIN/PTAIS seluruh Indonesia.

Baca juga: Melacak Sejarah Penerjemahan al-Quran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *