Generasi Z dan Halal Bihalal: Tradisi yang Diwarisi tapi Tidak Sepenuhnya Dipahami

Sumber ilustrasi: suaraindonesiamerdeka.com

Oleh: Muhammad Fadhil Wathani

Tidarislam.co- Setiap tahun, pemandangan yang sama terulang di ruang keluarga, aula masjid, hingga kantor-kantor di seluruh Indonesia. Para sesepuh duduk di kursi terdepan, tangan terjulur menyambut antrian panjang yang datang bersalaman. Di antara mereka, anak-anak muda dari Generasi Z ikut mengular, mengulurkan tangan, mengucapkan kata maaf, lalu kembali ke sudut ruangan sambil membuka layar ponsel. Mereka hadir secara fisik, tetapi apakah mereka sungguh-sungguh hadir secara makna? Inilah pertanyaan yang jarang kita tanyakan, padahal jawabannya sangat menentukan nasib tradisi halal bihalal di masa mendatang.

Generasi Z, mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh dalam ekosistem yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka besar bersama internet, terbiasa dengan informasi yang cepat, dan cenderung mempertanyakan sesuatu sebelum menerimanya. Jika generasi sebelumnya menerima tradisi halal bihalal sebagai warisan yang tidak perlu dipertanyakan, Generasi Z justru tumbuh dengan kebiasaan bertanya: untuk apa, dari mana asalnya, dan apa bedanya dengan sekadar basa-basi. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan cerminan cara berpikir sebuah generasi yang lahir di era verifikasi fakta dan literasi digital.

Tradisi yang Diturunkan Tanpa Penjelasan

Masalah terbesar dari pewarisan halal bihalal kepada Generasi Z bukan terletak pada keengganan mereka untuk berpartisipasi, melainkan pada cara tradisi ini diturunkan. Selama puluhan tahun, halal bihalal diwariskan melalui pembiasaan, bukan pemahaman. Anak-anak diajak bersalaman, diajarkan mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin,” tetapi jarang sekali ada yang duduk bersama mereka untuk menjelaskan mengapa tradisi ini ada, apa landasan teologisnya, dan apa bedanya dengan sekadar ritual tahunan yang harus diselesaikan. Akibatnya, Generasi Z mewarisi kulit tradisi tanpa isinya.

Padahal secara historis, halal bihalal memiliki akar yang kuat dan konteks yang bermakna. Tradisi ini dipopulerkan di Indonesia pada era kemerdekaan sebagai ikhtiar untuk menyatukan kembali masyarakat yang sempat terbelah oleh konflik sosial dan politik. Ia bukan sekadar ritual maaf-maafan, melainkan instrumen rekonsiliasi sosial yang lahir dari kebutuhan nyata. Jika pemahaman ini tidak disampaikan kepada generasi muda, maka yang tersisa hanyalah kerangka acara tanpa jiwa: ada sambutan, ada jabat tangan, ada konsumsi, lalu bubar.

 

“Berbagai survei global, termasuk yang dilakukan oleh McKinsey and Company pada tahun 2023, menunjukkan bahwa Generasi Z sangat menghargai keaslian dan cenderung skeptis terhadap sesuatu yang terasa performatif atau dilakukan hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial.”

 

Antara Autentisitas dan Performa

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang sangat peka terhadap autentisitas. Berbagai survei global, termasuk yang dilakukan oleh McKinsey and Company pada tahun 2023, menunjukkan bahwa Generasi Z sangat menghargai keaslian dan cenderung skeptis terhadap sesuatu yang terasa performatif atau dilakukan hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial. Dengan lensa ini, halal bihalal yang dijalani tanpa pemahaman dan ketulusan akan terasa seperti pertunjukan belaka bagi mereka. Dan ketika sesuatu terasa tidak autentik, Generasi Z tidak segan untuk mundur secara emosional meski tetap hadir secara fisik.

Ironisnya, justru nilai inti dari halal bihalal sangat sejalan dengan apa yang dicari Generasi Z: kejujuran, ketulusan, dan relasi yang bermakna. Islam mengajarkan bahwa meminta maaf dan memaafkan adalah tindakan yang harus lahir dari kesadaran dan keikhlasan hati, bukan dari tekanan sosial. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT tidak menerima amal seseorang yang di dalam hatinya masih tersimpan permusuhan terhadap saudaranya (HR. Abu Dawud). Jika pesan ini disampaikan dengan tepat kepada Generasi Z, bukan tidak mungkin mereka justru menjadi generasi yang paling serius menghayati tradisi ini.

Kritik yang Perlu Kita Dengar

Sebagian kalangan merespons “ketidakantusiasan” Generasi Z terhadap halal bihalal dengan keluhan dan tuduhan bahwa generasi ini tidak menghormati tradisi. Respons semacam ini perlu kita tinjau ulang. Bukankah lebih mengkhawatirkan jika seseorang rajin hadir di halal bihalal tetapi tidak sungguh-sungguh memaafkan siapa pun? Bukankah kehadiran yang hampa jauh lebih berbahaya bagi keberlangsungan tradisi dibandingkan dengan ketidakhadiran yang jujur? Generasi Z yang bertanya dan mempertanyakan justru memberi kita kesempatan untuk memperbaiki cara kita mewariskan tradisi ini.

Yang perlu dikritisi bukan sikapnya, melainkan metode pewarisannya. Selama kita hanya mengharapkan kepatuhan tanpa menawarkan pemahaman, selama kita lebih sibuk memastikan kursi terisi daripada memastikan hati yang hadir, maka halal bihalal akan terus terasa asing bagi siapa pun yang tidak tumbuh dengan penjelasan yang memadai tentangnya. Ini bukan soal Generasi Z yang bermasalah. Ini soal cara kita yang belum berhasil menjembatani nilai dengan generasinya.

Mewariskan Makna, Bukan Sekadar Kebiasaan

Tradisi yang hidup adalah tradisi yang mampu menjelaskan dirinya sendiri kepada setiap generasi baru. Halal bihalal memiliki semua modal untuk itu: ia memiliki akar sejarah yang kuat, landasan teologis yang kokoh, dan nilai kemanusiaan yang universal. Yang kurang adalah jembatan penjelasan yang menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan cara berpikir dan bahasa Generasi Z. Diperlukan orang-orang yang mau duduk bersama anak muda bukan untuk meminta mereka tunduk pada tradisi, tetapi untuk mengajak mereka memahami mengapa tradisi ini layak untuk diteruskan.

Ada beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menjembatani Generasi Z dengan tradisi halal bihalal secara lebih bermakna. Pertama, ganti pembiasaan buta dengan pembiasaan yang disertai cerita. Sebelum berangkat ke acara halal bihalal, luangkan waktu lima menit untuk menceritakan dari mana tradisi ini berasal dan mengapa ia penting. Anak muda yang tahu mengapa sesuatu dilakukan jauh lebih mudah dilibatkan dibanding mereka yang hanya tahu apa yang harus dilakukan.

Kedua, ciptakan ruang dialog, bukan monolog. Ajak Generasi Z bicara tentang apa yang mereka rasakan ketika menjalani halal bihalal: apakah ada yang terasa canggung, apakah ada yang tidak mereka mengerti, apakah ada pengalaman memaafkan yang sungguh-sungguh pernah mereka rasakan. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan ancaman bagi tradisi, melainkan jembatan yang mempertemukan nilai lama dengan pengalaman baru. Orang tua dan guru yang mau mendengarkan lebih banyak akan menemukan bahwa Generasi Z tidak seapatis yang selama ini diasumsikan.

Ketiga, tunjukkan keteladanan yang nyata. Generasi Z sangat tajam membaca ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan. Jika mereka menyaksikan orang dewasa di sekitar mereka meminta maaf dengan sungguh-sungguh, mengakui kesalahan secara spesifik, dan benar-benar mengubah perilaku setelah halal bihalal, mereka akan belajar bahwa tradisi ini bukan seremoni kosong.

Halal bihalal yang bermakna bagi Generasi Z bukan yang dikemas lebih modern dengan “acara games” atau dekorasi “kinian.” Yang mereka butuhkan jauh lebih sederhana dan sekaligus jauh lebih dalam: penjelasan yang jujur, ruang untuk bertanya, dan teladan bahwa orang-orang di sekitar mereka benar-benar memaafkan dengan tulus, bukan sekadar berjabat tangan lalu kembali membawa dendam yang sama.

Lombok, 24 Maret 2026.

Muhammad Fadhil Wathani, Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Universitas PTIQ Jakarta. Korespondensi: Instagram: @fadhilwathani -Facebook: Muhammad Fadhil Wathani – Twitter/X: @fadhilwath

Baca juga: Di Malam Lebaran
Lihat juga: Ketapang 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *